21 februari 2013

 

KEHIDUPAN KELUARGA

       Pengertian keluarga dalam suku di Kalimantan Tengah mengandung pengertian yang luas. Pengertian ini mencakup rumah tangga, keluarga batih (kingroup atau nuclear family) dan juga kelompok kekerabatan, bahkan mencakup pengertian suku. Bila keluarga diartikan ayah, ibu, anak-anak, maka dalam anggapan orang Dayak hal itu merupakan bagian dari keluarga.

Kehidupan keluarga sangat berperan pada suku Dayak, terutama sekali dalam upacara-upacara adat. Pengertian serta peranan kehidupan keluarga pada orang Dayak adalah akibat dari asal-usul kehidupan keluarga orang Dayak pada masa lalu.

Dahulu orang Dayak bertempat tinggal dalam sebuah rumah besar dan panjang disebut betang. Betang ialah suatu rangkaian rumah yang jumlahnya dapat meliputi 50 buah.

Dalam tiap-tiap petak tinggal satu keluarga batih. Yang menempati rumah besar itu seluruhnya berasal dari satu keluarga batih (ancestor oriented kingroups). Sehingga dapatlah dimengerti apabila ada sesuatu yang menyangkut kehidupan salah satu keluarga batih itu, dapat berarti menyangkut seluruh keluarga dalam arti luas.

 

  1. SISTEM-KEKERABATAN

Batas hubungan kekerabatan atau sistem kekerabatan pada suku Dayak Kalimantan Tengah terletak pada hubungan sejumlah kerabat yang bersama-sama memegang sejumlah hak dan kewajiban tertentu. Hak-hak itu misalnya hak untuk mewarisi harta, gelar benda-benda pusaka, upacara adat dan sebagainya. Dengan pengertian batas hubungan kekerabatan ini maka terlihatlah bahwa batas hubungan kekerabatan itu sangat ditentukan oleh prinsip-prinsip keturunan. Prinsip keturunan inilah yang menentukan siapa di antara kaum keturunan. Prinsip keturunan inilah yang menentukan siapa di antara kaum kerabat yang tak terbatas jumlahnya itu akan jatuh ke dalam batas hubungan kekerabatan, dan siapa pula yang akan berada diluar batas hubungan kekerabatan tersebut.

 

Prinsip kekerabatan pada suku Dayak di Kalimanatan Tengah adalah parental. Jadi dapatlah dikatakan bahwa garis keturunan itu dapat ditarik dari garis bapa ataupun garis ibu.

Di dalam sistem kekerabatan suku Dayak yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai dengan keturunan ketiga. Keturunan ketiga ini diatas Ego dan masih dibawah Ego. Di luar dari ketiga keturunan ke atas dan ke bawah ego ini sudah dianggap jauh (tidak termasuk keluarga batih), tetapi masuk kekerabatan yang disebut  ”bubuhan”.

Apabila lebih luas lagi disebut oloh atau uluh yang artinya suku misalnya oloh Ma’anyam atau oloh Ngaju.

Kejadian yang menimpa seseorang yang termasuk dalam keluarga batih (nuclear family) akan menyangkut seluruh keluarga dari pihak bapa dan ibu bahkan bubuhan sampai dengan suku. Kejadian atau aktifitas memperlihatkan dengan jelas hal kekerabatan ini ialah kejadian daur hidup sekitar (life-cycle), misalnya pertemuan, upacara pesta atau upacar kematian. Pada pertemuan-pertemuan, dan upacara-upacara itu terlihat bagaimana hubungan kekerabatan suku Dayak itu, terutama sekali antara mereka yang tinggal di desa atau kota yang sama atau yang berdekatan, bahkan kaum kerabat yang bertempat tinggal jauh letaknya pun berusaha datang.

Di dalam membicarakan sistem kekerabatan ini ada baiknya juga diketahui sedikit mengenal sopan-santun pengaulan kekerabatan sebab adat sopan-santun pergaulan kekerabatan itu menentukan bagaimana seseorang seharusnya bersikap terhadap kerabat yang lain. Dan hal ini juga banyak menerapkan bagaimana sistem kekerabatan itu sendiri. Terlihat dari bagaimana ego bergaul, berlaku, bersikap terhadap kaum kerabatnya. Umunya bentuk sapaan terhadap orang yang dianggap lebih tua atau yang patut dihormati oleh Pak + nama anak yang sulung. Misalnya, jika si A mempunyai anak sulung yang bernama B maka dalam sopan santun pergaulan kekerabatan si A tersebut akan dipanggil Pak B. Akan tetapi apabila si A dianggap teman sebaya atau sederajat ia akan ditegur dengan memanggil namanya. Bagi orang Dayak terutama mereka yang menerima agama kristen, penamaan ego biasanya dengan mengambil nama-nama dari Alkitab ataupun nama-nama orang Jerman atau Swiss.

  1. Sistem-perkawinan

Salah satu fase dalam daur hidup (life cycle) manusia umumnya adalah fase perubahan kehidupan remaja ke dalam fase kehidupan berkeluarga yang lazim dikenal dengan perkawinan. Kecuali sebagai pengatur kelakuan seks, maka perkawinan juga berfungsi untuk memberi ketentuan hak dan kewajiban serta perlindungan terhadap anak-anak, harta benda, dan status. Fungsi lain, yang tidak kalah pentingnya ialah untuk memelihara hubungan baik antara kelompok-kelompok kerabat atau keluarga dalam arti luas.

Dilihat dari adat kebiasaan perkawinan yang sering terjadi pada suku Dayak Kalimantan Tengah pada masa dahulu, sering kali perkawinan terjadi di dalam sukunya sendiri (endogami). Di dalam hukum adat suku Dayak terdapat aturan perkawinan. Semua aturan di dalam hukum adat adalah sama. Apabila ada masalah yang timbul, yakni terjadinya perkawinan dengan orang di luar sukunya sendiri, hal itu dianggap sesuatu yang luar biasa. Masalah yang demikian akan dimasukkan kedalam kategori hatamput atau ngungkung wawei, dan penyelesaiannya akan ditentukan dengan menetapkan dimana perkawinan itu dilakukan.

Apa bila perkawinan itu dilakukan di dalam suku sendiri, maka orang yang berasal dari suku lain itu harus diadopsi terlebih dahulu ke dalam suku. Menyelenggarakan perkawinan itu. Sesudah itu, barulah berlaku hukum adat perkawinan seperti biasa.

Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah mempunyai larangan-larangan tenteng pemilihan jodoh bagi anggota-anggotanya. Hal-hal yang tidak dbolehkan ini disebut sumbang. Perkawinan yang tidak di bolehkan oleh adat ialah antara: saudara kandung, antara garis keturunan pertama dari ayah, antara garis lurus kedua dan ketiga dari garis ayah dan ibu, hal tersebut tidak disalahkan oleh adat. Biasanya perkawinan terjadi pada garis keturunan pertama, dimana ayah atau ibu kedua mempelai bersaudara kandung, hal ini disadari suatu alasan untuk lebih mendekatkan keluarga. Sistem perkawinan orang Dayak, berikutnya adalah mempunyai sarat-sarat yang harus dipenuhi, setelah diketahui dengan pasti bahwa pelaksanaan perkawinan itu tidak melanggar sistim kekerabatan. Kedua mempelai selaku individu-individu dalam kelompok kekerabatan mempunyai kepentingan yang sama sekali tidak terlepas dari kepentingan keluarga atau kelompok kerabatan. Oleh karena perkawinan itu menyangkut sosial yang luas, maka individu yang hendak mengambil inisiatif untuk kawin harus memenuhi segala persaratannya telah ditetapkan oleh adat-istiadat yang yang berlaku pada suku Dayak di Kalimantan Tengah. Syarat-syarat ini sering dikenal dengan sebutan mas kawin. Pada suku dayak, besar dan kecilnya mas kawin tergantung pada kelompok atau status seseorang di dalam sukunya.

Pada masing-masing suku Dayak mas kawin itu berbeda-beda. Perbedaan tersebut hanya terletak pada jenis dan jumlah mas kawin tersebut. Umunya semua suku Dayak akan menuntut mas kawinnya berupa benda-benda pusaka seperti gong, belanga piring kuno (piring melawen), tombak dan sebagainya.

Pada masa sekarang persyaratan-persyaratan tersebut sukar dipenuhi. Dalam upacara perkawinan pada suku Dayak sekarang ini semua pesyaratan itu diganti dengan iang. Tetapi tetap disebutkan persyaratan asli dari mas kawin tersebut. Misalnya sebuah gong diganti dengan uang sebesar Rp.25.000,00,- (dua puluh lima lima ribu rupiah).

  1. Sistem-warisan

Masalah berikutnya yang sangat erat berhubungan dengan sistem kekerabatan adalah sistem warisan sebab akibat darisistem warisan ini membawa pengaruh sangat erat dan longgarnya perttalian keluarga dalam arti luas. Yang menyangkut seluruh sendi kehidupan berkeluarga maupun kelompok adalah adat karena didalam upacara adat masalah siapa yang mempunyai hak adalah sangat penting. Mengenai harta peninggalan yang dijadikan objek sistem warisan ini adalah:

  1. Benda-benda yang tidak dapatdibagikan.
    1. Benda pusaka milik, kelompok, keluarga secara turun menurun.
    2. Benda milik bersama seperti tanah, kebon, sawah, bagunan rumah.
    3. Benda-benda yang dapat dibagikan biasanya yang diperoleh selama perkawinan suaut keluarga batih yang bersangkutan (nuclear family).

Benda-benda tersebut misalnya berupa alat-alat rumah tangga, tanah, sawah.

 

Yang berhak atas warisan peninggalan adalah keturunan dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Laki-laki atau perempuan mempunyai hak yang sama. Bagiannya yang sama rata.

Yang memeperoleh bagian sedikit lebih banyak itu biasanya adalah orang yang tinggal berdekatan (sekampung, atau serumah), dan yang merawat orang tua sewaktu sakit hampir meninggal. Begitu pula sanak-saudara yang berada jauh di rantau merelakan sedikit bagiannya kepada saudara mereka yang tinggal bersama orang tua mereka. Itulah pula sebabnya mengapa benda-benda milik kaum kerabat hanya dapat dijumpai pada mereka yang tinggal menetap di kampung atau didesak yang bersangkutan.

 

Walaupun agama islam dan kristen sudah masuk di tengah-tengah orang Dayak sistem warisan ini belum mengalami perubahan. Dalam kehidupan orang Dayak sekarang, apabila satu keturunan tertentu menghendaki hanya seorang ahli waris, mereka akan cenderung akan memilih anak laki-laki. Hanya dalam hal ini sajalah adalah kecenderungan mengubah sistem warisan itu tetapi dalam hal jumlah tetap sama seperti dahulu (sesuai adat).

 

  1. D.             Daur hidup perseorangan

Daur hidup perseorangan (life cycle) suku Dayak di Kalimantan tengah dimulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, masa remaja, perkawinan, masa tua, sampai pada kematian, kehidupan seseorang di dalam suku Dayak sangat erat berhubungan dengan suku dan adat yang mereka pelihara. Begitu pula siklus kehidupan atau daur hidup perseorangan erat sekali hubungannya dengan adat.

  1. Kelahiran

Bila tiba masanya sang bayi akan lahir, berkumpullah kaum keluarga biasanya sampai dengan turunan pertama dari pihak suami atau istri. Pada saat-saat demikian itu sang suami tidak boleh mengerjakan sesuatu apa pun, karena menurut anggapan mereka, ada suatu pekerjaan yang memebawa akibat kepada lancarnya kelahiran sang bayi. Setelah sang bayi lahir, sang ayah bayi itu tidak diperkenankan pergi jauh dari rumah selama 3 sampai 7 hari.

Pada saat tali tembuni (placenta) fanggal, diadakan sedikit upacara berupa selamatan yang disebut mamalas atau nyaki milah.

Maksud upacara itu hanya sekedar ucapan selamat atau terimakasih pada orang tua yang telah menolong bayi tersebut di dalam proses kelahirannya. Kadang-kadang disertai dengan pemberian nama bagi sang bayi.

Setelah bayi berumur satu tahun atau lebih menurut adat dahulu, anak ini dimandikan (semacam baptisan). Upacara ini dilakukan dengan balian atau wadian. Upacara ini sebagai per tanda bahwa anak ini mulai menginjak masa kanak-kanak.

  1. 2.              Masa kanak-kanak

Pada masa kanak-kanak tidak ada upacara apa pun. Anak ini bermain dengan anak-anak lainnya dalam kampung/desa tempat ia dilahirkan. Apabila anak ini dianggap sudah mampu untuk menjaga adik-adiknya, ia akan diserahi tugas untuk menjaga adik-adiknya. Sesudah anak itu cukup besar dan mampu berkerja menurut penilaian orang tuanya, anak-anak itu dapat membantu mengerjakan pekerjaan ibu dan bapaknya. Hal ini berlangsung terus menerus sampai sianak menginjak dewasa.

  1. 3.              Masa dewasa

Orang-orang yang sudah dewasa atau remaja pada suku Dayak Ot Danom dan Dayak Ngajuk dahulu ditempatkan dimasukkan dalam suatu asrama untuk belajar membuat alat perlengkapan hidup mereka kelak. Asrama yang berfungsi sebagai tempat pendidikan ini pada suku Sayak Ot Danom dan Dayak Ngajuk disebut kuwu. Pada suku Dayak Ma’anyan dan Lawangan lembaga ini tidak dikenal.

Orang-orang tua yang masih termasuk dalam keluarga batih mengajarkan kepada para pemuda begaimana cara membuat alat pelengkapan hidup mereka pada umunya, dan pada upacara adat diajarkan pula cerita-cerita rakyat yang mengisahkan asal-usul suku Dayak Ma’anyan dan Lawangan.

  1. Perkawinan

Berakhirnya masa dewasa ditandai dengan tibanya perkawinan. Seseorang dianggap cukup matang  untuk melangsungkan perkawinannya bila ia sudah dapat membuat alat-alat pelengkapan hidup pada umumnya dan dinilai mampu membina rumah tangganya.

Proses perkawinan dilaksanakan sesuai dengan adat serta hukum adat.

  1. Masa-tua

Masa ini disampingnya mempunyai tugas-tugas sebagai kepala keluarga dalam rumah tangga ia juga bertugas untuk mengajarkan kepada para pemuda dalam lingkungan keluarga batih maupun keluarga dalam arti luas.

Selalu diajarkan pula apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan menurut adat leluhur,

  1. Kematian

Bila yang bersangkutan meninggal dunia maka dilangsanakan upacara kematian baginya. Upacara kematian pada masing-masing suku Dayak ini agak berbeda satu dengan yang lainnya. Umumnya semua suku Dayak ini selalu menyimpan tulang-tulang si mati itu di tempat tertentu yang disebut Sandong atau Tambak atau kadaton.

Dengan bertambah majunya hubungan dan masuknya kebudayaan dari luar serta sulitnya melaksanakan adat serta  upacara adat, banyak perubahan terjadi di dalam pelaksanaan sehari-hari. Misalnya mereka yang telah memeluk agama kristen, upacara pemandian anak diganti dengan baptisan. Tetapi, bekas adat leluhur masih tampak yaitu selalu sesudah diadakan baptisan di gereja diikuti dengan pesta pengucapan syukur.

  1. Pola-hidup sehari-hari

Pola hidup sehari-hari orang Dayak di Kalimanatan Tengah dimulai dengan mata pencaharian mereka. Sebagai mata pencaharian pokok suku Dayak Kalimantan Tengah adalah bertani pada ladang.

Sistem pertanian pada ladang adalah suatu cara bercocok tanam yang berpindah-pindah tempat. Sebagai usaha tambahan atau usaha sampingan mereka adalah mengusahakan hasil hutan dan berkebun karet.

Apabila diamati, pola pencaharian hidup orang Dayak umunya adalah tergantung pada alam. Sebagai contoh, apa bila musim kemarau tiba, hampir seluruh penduduk turun mencari ikan di danau-danau dan di sungai-sungai. Secara praktis pada masa ini perkebunan karet tidak digarap atau diusahakan.

Selesai musim kemarau mereka mulai menyadap karet atau mencari hasil hasil hutan yang lain lagi. Bila musim hujan tiba mereka tidak menyadap karet lagi, tetapi mengerjakan pekerjaan lain, misalnya anyam-menganyam atau membuat barang-barang kerajinan tangan. Jadi, dapatlah dikatakna bahwa mata pencaharian orang Dayak bergantung pada alam atau musim.

Suatu suku bangsa yang masih memegang teguh adat-istiadat mereka seperti orang Dayak di kalimantan Tengah, tidak mengherankan jika pola mata pencaharian mereka bergantung pada alam. Sebab bagi suku bangsa yang masih memegang adat atau dipengaruhi benar oleh adat beranggapan bahwa hidup ini tergantung pada alam.

Maka oleh karenanya keseimbangan alam (kosmos) ini harus dijaga. Apabila keseimbangan alam tersebut terganggunya kehidupan manusia. Maka perlu segera diadakan upacar untuk mengembalikan keseimbangan tersebut. Sebagai salah satu akibat terikatnya mereka  pada adat, maka pola hidup mereka sehari-hari beririentasi ke masa depan.

Hanya saja masa depan mereka adalah apabila segala adat dan upacara adat dapat dilangsungkan, itulah keputusan yang mereka tuju. Dirasakan adanya suatu keputusan dam kebahagiaan apabila orang tua mereka yang telah meninggal sudah dilaksanakan upacara kematiannya yang sering dikenal dengan tiwah, ijambe, wara dala dan sebagainya seperti diketahui upacara semacam itu memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi demi untuk rasa kepuasan dan kebahagiaan serta bakti terhadap orang tua, maka upacara ini sedapat mungkin harus diselenggarakan tanpa memperdulikan bagaimana hari esok yang lebih panjang lagi.

Pada masa sekarang perwujudan dari pengaruh pola hidup sehari-hari terlihat apabila ada peristiwa-peristiwa istimewa dalam daur hidup dalam (life-cycle) pasti dilaksanakan pesta. Apakah peristiwa itu berupa kelahiran, baptisan, perkawinan, atau kematian selalu diadakan pesta.

Akhirnya dapatlah disimpulkan bahwa pola hidup sehari-hari orang Dayak Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut:

  1. Pola hidup mereka tergantung pada alam atau musim.
  2. Pola hidup mereka berorientasi pada masa depan.
  3. Tumpuan masa depan mereka diletakkan pada anak-anak mereka untuk melanjukan adat kebiasaan mereka.
  4. Pola-hidup musiman

Dalam pola hidup sehari-hari telah dikatakan bahwa mereka sangat tergantung pada alam atau musim. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pola hidup suku Dayak sangat dimanjakan oleh alam lingkungan tempat mereka hidup. Alam telah menyediakan segala-galanya. Manusia tinggal menyesuaikan diri dengan keadaan untuk memetik hadil bagi hidup mereka.

Jadi pola hidup musiman pada orang Dayak di Kalimantan Tengah juga tergantung pada permintaan pasar dan kebutuhan. Bila harga karet sedang melonjak naik, maka seluruh penduduk menyadap karet atau mengusahakan karet. Jika harga kayu meningkat, maka seluruh penduduk mengusahakan kayu. Jikalau rotan sedang melonjak harganya maka seluruh kebon rotan diambil hasilnya.

Sebaliknya bila harga barang-barang tidak memuaskan atau dianggap tidak memenuhi kebutuhan mereka, maka pekerjaan itu ditunda dahulu. Mereka beralih ke pekerjaan lainnya yang dapat memeberi hasil yang memuaskan mereka. Akhirnya apabila harta mereka berhenti dahulu. Didalam pesta ini sering diahbiskan segala harta yang dikumpulkan bertahun-tahun itu. Memang bila dilihat dari sudut kaca mata ekonomi pada masa kini, tindakan tersebut adalah tidak ekonomis. Namun sesuatu nilai dari pandangan hidup manusia tidak dapat diteropong dari sudut ekonomi saja.