Tentang Dayak 2

Mandau Senjata Keramat Suku Dayak

21 februari2013

|   Penulis: Herru <!–

Categories:

–>

Suku Dayak adalah suku yang gemar sekali berpetualang, sehingga untuk memberi kenyamanan dalam perjalanannya seorang putra dayak akan melengkapi dirinya dengan senjata. Mandau adalah salah satu senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai barang keramat.
Di samping itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena nyaris sebagian besar kehidupan seharian orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu berada dan diikatkan pada pinggang mereka dalam keseharian.

Mandau bertatah, atau berukir dengan menggunakan emas, perak atau tembaga sedangkan ambang atau apang hanya terbuat dari besi biasa.Mandau atau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau dirawat dengan baik karena diyakini bahwa mandau memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi mereka dari serangan dan maksud jahat lawan.

Mandau selain dibuat dari besi batu gunung dan diukir, pulang atau hulu mandau yang biasa disebut pulang mandau juga dibuat berukir dengan menggunakan tanduk rusa untuk warna putih dan tanduk kerbau untuk warna hitam Namun dapat pula dibuat dengan menggunakan kayu kayamihing. Untuk memproses pembuatan pulang mandau dengan kayu kayamihing terlebih dahulu batang kayu yang akan digunakan tersebut direndam dalam tanah luncur yaitu tanah yang ditemukan di daerah pantai. Dibagian ujung pulang mandau diberi bulu binatang atau rambut manusia. Untuk merekatkan mandau dengan pulangnya digunakan getah kayu sambun yang telah terbukti daya rekatnya.

Setelah pulang dan mandau terikat dengan baik, baru kemudian diikat lagi dengan jangang. Kemampuan daya tahan jangang tidak perlu diragukan, namun apabila jangang sulit ditemukan dapat diganti dengan anyaman rotan.

Dibutuhkan kemampuan memilih bebatuan yang mengandung besi bila mengawali pekerjaan ini. Kemudian bebatuan yang terkumpul mereka masak dalam tumpukan ranting-ranting dan daun kering dengan menggunakan alat yang disebut puputan, hingga batu-batuan itu bernyala. Dalam keadaan bernyala, bebatuan dimasukkan ke dalam air, bebatuan mendidih di air, dan terurai. Butir-butiran besi yang dihasilkan diolah menjadi bahan pembuatan mandau. Besi mantikei sangat keras, tajam, dan elastis, juga mengandung bisa, disamping itu mahluk halus yang punya maksud jahat takut pada daya magis yang dimiliki oleh besi mantikei tersebut.

Membuat Mandau dengan besi mantikei prosesnya lebih mudah karena pemanasan cukup sekali saja, tidak perlu diulang-ulang. Setelah sekali dipanaskan, sekali dicelupkan ke dalam air, yang biasa disebut suhup lewa, besi mantikei tersebut dapat segera diproses menjadi bentuk mandau yang diinginkan.

Hingga sekarang Mandau masih mewarnai kehidupan suku-suku Dayak, baik untuk berburu ataupun untuk kegiatan sehari-hari. Sedangkan Mandau yang sering kali kita liat dipergunakan dalam seni tari, kebanyakan adalah Mandau Imitasi atau tiruan. Ha itu tak lain sebagai bentuk pelestarian pada budaya bangasa pada generasi selanjutnya.

  digg

 

Tentang Dayak 1

2-02-2013 10:27

Quote:Original Posted By itheout
kata nenek ane dari suku mongol gan
tp tau deh bner ga nya
Pendapat bahwa suku dayak adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak memang berasal dari China Selatan di provinsi Yunnan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans (1987: 3):
agan bisa baca di bukunya herman josef van hulten.
Spoilerfor dutch missionaris:

semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia… Dan memang ketika china pada saat itu sempat dipimpin oleh bangsa mongol atau dinasti Yuan (1271-1378). Yunnan dan Hunan adalah dasar utama untuk operasi militer Mongol di China Selatan. Bangsa Mongol di Yunnan adalah keturunan dari Dinasti Yuan dan sempat terjadi pembauran penduduk didaerah itu antara bangsa Han chinese (suku tionghoa asli yg skrg menjadi suku mayoritas penduduk china saat ini) dgn mongolia , pada masa Kekaisaran Mongol saat itu. dan Setelah berakhirnya masa dynasti Yuan yg digulingkan oleh dinasti Ming (1368-1644) ( Yg dipimpin oleh bangsa Han) setelah bangsa han berhasil mengusir bangsa mongol dari China. maka yg sebelumnya sempat terjadi pembauran antara bangsa mongol dan suku han di daerah yunnan dan hunan, namun mereka mengaku sebagai bangsa han chinese. Jadi memungkinkan juga klo suku dayak yg ada di kalimantan masih mempunyai darah mongol..

http://en.wikipedia.org/wiki/Yunnan_Mongols

Kebiasaan Adat Dayak

 

21 februari 2013

 

KEHIDUPAN KELUARGA

       Pengertian keluarga dalam suku di Kalimantan Tengah mengandung pengertian yang luas. Pengertian ini mencakup rumah tangga, keluarga batih (kingroup atau nuclear family) dan juga kelompok kekerabatan, bahkan mencakup pengertian suku. Bila keluarga diartikan ayah, ibu, anak-anak, maka dalam anggapan orang Dayak hal itu merupakan bagian dari keluarga.

Kehidupan keluarga sangat berperan pada suku Dayak, terutama sekali dalam upacara-upacara adat. Pengertian serta peranan kehidupan keluarga pada orang Dayak adalah akibat dari asal-usul kehidupan keluarga orang Dayak pada masa lalu.

Dahulu orang Dayak bertempat tinggal dalam sebuah rumah besar dan panjang disebut betang. Betang ialah suatu rangkaian rumah yang jumlahnya dapat meliputi 50 buah.

Dalam tiap-tiap petak tinggal satu keluarga batih. Yang menempati rumah besar itu seluruhnya berasal dari satu keluarga batih (ancestor oriented kingroups). Sehingga dapatlah dimengerti apabila ada sesuatu yang menyangkut kehidupan salah satu keluarga batih itu, dapat berarti menyangkut seluruh keluarga dalam arti luas.

 

  1. SISTEM-KEKERABATAN

Batas hubungan kekerabatan atau sistem kekerabatan pada suku Dayak Kalimantan Tengah terletak pada hubungan sejumlah kerabat yang bersama-sama memegang sejumlah hak dan kewajiban tertentu. Hak-hak itu misalnya hak untuk mewarisi harta, gelar benda-benda pusaka, upacara adat dan sebagainya. Dengan pengertian batas hubungan kekerabatan ini maka terlihatlah bahwa batas hubungan kekerabatan itu sangat ditentukan oleh prinsip-prinsip keturunan. Prinsip keturunan inilah yang menentukan siapa di antara kaum keturunan. Prinsip keturunan inilah yang menentukan siapa di antara kaum kerabat yang tak terbatas jumlahnya itu akan jatuh ke dalam batas hubungan kekerabatan, dan siapa pula yang akan berada diluar batas hubungan kekerabatan tersebut.

 

Prinsip kekerabatan pada suku Dayak di Kalimanatan Tengah adalah parental. Jadi dapatlah dikatakan bahwa garis keturunan itu dapat ditarik dari garis bapa ataupun garis ibu.

Di dalam sistem kekerabatan suku Dayak yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai dengan keturunan ketiga. Keturunan ketiga ini diatas Ego dan masih dibawah Ego. Di luar dari ketiga keturunan ke atas dan ke bawah ego ini sudah dianggap jauh (tidak termasuk keluarga batih), tetapi masuk kekerabatan yang disebut  ”bubuhan”.

Apabila lebih luas lagi disebut oloh atau uluh yang artinya suku misalnya oloh Ma’anyam atau oloh Ngaju.

Kejadian yang menimpa seseorang yang termasuk dalam keluarga batih (nuclear family) akan menyangkut seluruh keluarga dari pihak bapa dan ibu bahkan bubuhan sampai dengan suku. Kejadian atau aktifitas memperlihatkan dengan jelas hal kekerabatan ini ialah kejadian daur hidup sekitar (life-cycle), misalnya pertemuan, upacara pesta atau upacar kematian. Pada pertemuan-pertemuan, dan upacara-upacara itu terlihat bagaimana hubungan kekerabatan suku Dayak itu, terutama sekali antara mereka yang tinggal di desa atau kota yang sama atau yang berdekatan, bahkan kaum kerabat yang bertempat tinggal jauh letaknya pun berusaha datang.

Di dalam membicarakan sistem kekerabatan ini ada baiknya juga diketahui sedikit mengenal sopan-santun pengaulan kekerabatan sebab adat sopan-santun pergaulan kekerabatan itu menentukan bagaimana seseorang seharusnya bersikap terhadap kerabat yang lain. Dan hal ini juga banyak menerapkan bagaimana sistem kekerabatan itu sendiri. Terlihat dari bagaimana ego bergaul, berlaku, bersikap terhadap kaum kerabatnya. Umunya bentuk sapaan terhadap orang yang dianggap lebih tua atau yang patut dihormati oleh Pak + nama anak yang sulung. Misalnya, jika si A mempunyai anak sulung yang bernama B maka dalam sopan santun pergaulan kekerabatan si A tersebut akan dipanggil Pak B. Akan tetapi apabila si A dianggap teman sebaya atau sederajat ia akan ditegur dengan memanggil namanya. Bagi orang Dayak terutama mereka yang menerima agama kristen, penamaan ego biasanya dengan mengambil nama-nama dari Alkitab ataupun nama-nama orang Jerman atau Swiss.

  1. Sistem-perkawinan

Salah satu fase dalam daur hidup (life cycle) manusia umumnya adalah fase perubahan kehidupan remaja ke dalam fase kehidupan berkeluarga yang lazim dikenal dengan perkawinan. Kecuali sebagai pengatur kelakuan seks, maka perkawinan juga berfungsi untuk memberi ketentuan hak dan kewajiban serta perlindungan terhadap anak-anak, harta benda, dan status. Fungsi lain, yang tidak kalah pentingnya ialah untuk memelihara hubungan baik antara kelompok-kelompok kerabat atau keluarga dalam arti luas.

Dilihat dari adat kebiasaan perkawinan yang sering terjadi pada suku Dayak Kalimantan Tengah pada masa dahulu, sering kali perkawinan terjadi di dalam sukunya sendiri (endogami). Di dalam hukum adat suku Dayak terdapat aturan perkawinan. Semua aturan di dalam hukum adat adalah sama. Apabila ada masalah yang timbul, yakni terjadinya perkawinan dengan orang di luar sukunya sendiri, hal itu dianggap sesuatu yang luar biasa. Masalah yang demikian akan dimasukkan kedalam kategori hatamput atau ngungkung wawei, dan penyelesaiannya akan ditentukan dengan menetapkan dimana perkawinan itu dilakukan.

Apa bila perkawinan itu dilakukan di dalam suku sendiri, maka orang yang berasal dari suku lain itu harus diadopsi terlebih dahulu ke dalam suku. Menyelenggarakan perkawinan itu. Sesudah itu, barulah berlaku hukum adat perkawinan seperti biasa.

Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah mempunyai larangan-larangan tenteng pemilihan jodoh bagi anggota-anggotanya. Hal-hal yang tidak dbolehkan ini disebut sumbang. Perkawinan yang tidak di bolehkan oleh adat ialah antara: saudara kandung, antara garis keturunan pertama dari ayah, antara garis lurus kedua dan ketiga dari garis ayah dan ibu, hal tersebut tidak disalahkan oleh adat. Biasanya perkawinan terjadi pada garis keturunan pertama, dimana ayah atau ibu kedua mempelai bersaudara kandung, hal ini disadari suatu alasan untuk lebih mendekatkan keluarga. Sistem perkawinan orang Dayak, berikutnya adalah mempunyai sarat-sarat yang harus dipenuhi, setelah diketahui dengan pasti bahwa pelaksanaan perkawinan itu tidak melanggar sistim kekerabatan. Kedua mempelai selaku individu-individu dalam kelompok kekerabatan mempunyai kepentingan yang sama sekali tidak terlepas dari kepentingan keluarga atau kelompok kerabatan. Oleh karena perkawinan itu menyangkut sosial yang luas, maka individu yang hendak mengambil inisiatif untuk kawin harus memenuhi segala persaratannya telah ditetapkan oleh adat-istiadat yang yang berlaku pada suku Dayak di Kalimantan Tengah. Syarat-syarat ini sering dikenal dengan sebutan mas kawin. Pada suku dayak, besar dan kecilnya mas kawin tergantung pada kelompok atau status seseorang di dalam sukunya.

Pada masing-masing suku Dayak mas kawin itu berbeda-beda. Perbedaan tersebut hanya terletak pada jenis dan jumlah mas kawin tersebut. Umunya semua suku Dayak akan menuntut mas kawinnya berupa benda-benda pusaka seperti gong, belanga piring kuno (piring melawen), tombak dan sebagainya.

Pada masa sekarang persyaratan-persyaratan tersebut sukar dipenuhi. Dalam upacara perkawinan pada suku Dayak sekarang ini semua pesyaratan itu diganti dengan iang. Tetapi tetap disebutkan persyaratan asli dari mas kawin tersebut. Misalnya sebuah gong diganti dengan uang sebesar Rp.25.000,00,- (dua puluh lima lima ribu rupiah).

  1. Sistem-warisan

Masalah berikutnya yang sangat erat berhubungan dengan sistem kekerabatan adalah sistem warisan sebab akibat darisistem warisan ini membawa pengaruh sangat erat dan longgarnya perttalian keluarga dalam arti luas. Yang menyangkut seluruh sendi kehidupan berkeluarga maupun kelompok adalah adat karena didalam upacara adat masalah siapa yang mempunyai hak adalah sangat penting. Mengenai harta peninggalan yang dijadikan objek sistem warisan ini adalah:

  1. Benda-benda yang tidak dapatdibagikan.
    1. Benda pusaka milik, kelompok, keluarga secara turun menurun.
    2. Benda milik bersama seperti tanah, kebon, sawah, bagunan rumah.
    3. Benda-benda yang dapat dibagikan biasanya yang diperoleh selama perkawinan suaut keluarga batih yang bersangkutan (nuclear family).

Benda-benda tersebut misalnya berupa alat-alat rumah tangga, tanah, sawah.

 

Yang berhak atas warisan peninggalan adalah keturunan dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Laki-laki atau perempuan mempunyai hak yang sama. Bagiannya yang sama rata.

Yang memeperoleh bagian sedikit lebih banyak itu biasanya adalah orang yang tinggal berdekatan (sekampung, atau serumah), dan yang merawat orang tua sewaktu sakit hampir meninggal. Begitu pula sanak-saudara yang berada jauh di rantau merelakan sedikit bagiannya kepada saudara mereka yang tinggal bersama orang tua mereka. Itulah pula sebabnya mengapa benda-benda milik kaum kerabat hanya dapat dijumpai pada mereka yang tinggal menetap di kampung atau didesak yang bersangkutan.

 

Walaupun agama islam dan kristen sudah masuk di tengah-tengah orang Dayak sistem warisan ini belum mengalami perubahan. Dalam kehidupan orang Dayak sekarang, apabila satu keturunan tertentu menghendaki hanya seorang ahli waris, mereka akan cenderung akan memilih anak laki-laki. Hanya dalam hal ini sajalah adalah kecenderungan mengubah sistem warisan itu tetapi dalam hal jumlah tetap sama seperti dahulu (sesuai adat).

 

  1. D.             Daur hidup perseorangan

Daur hidup perseorangan (life cycle) suku Dayak di Kalimantan tengah dimulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, masa remaja, perkawinan, masa tua, sampai pada kematian, kehidupan seseorang di dalam suku Dayak sangat erat berhubungan dengan suku dan adat yang mereka pelihara. Begitu pula siklus kehidupan atau daur hidup perseorangan erat sekali hubungannya dengan adat.

  1. Kelahiran

Bila tiba masanya sang bayi akan lahir, berkumpullah kaum keluarga biasanya sampai dengan turunan pertama dari pihak suami atau istri. Pada saat-saat demikian itu sang suami tidak boleh mengerjakan sesuatu apa pun, karena menurut anggapan mereka, ada suatu pekerjaan yang memebawa akibat kepada lancarnya kelahiran sang bayi. Setelah sang bayi lahir, sang ayah bayi itu tidak diperkenankan pergi jauh dari rumah selama 3 sampai 7 hari.

Pada saat tali tembuni (placenta) fanggal, diadakan sedikit upacara berupa selamatan yang disebut mamalas atau nyaki milah.

Maksud upacara itu hanya sekedar ucapan selamat atau terimakasih pada orang tua yang telah menolong bayi tersebut di dalam proses kelahirannya. Kadang-kadang disertai dengan pemberian nama bagi sang bayi.

Setelah bayi berumur satu tahun atau lebih menurut adat dahulu, anak ini dimandikan (semacam baptisan). Upacara ini dilakukan dengan balian atau wadian. Upacara ini sebagai per tanda bahwa anak ini mulai menginjak masa kanak-kanak.

  1. 2.              Masa kanak-kanak

Pada masa kanak-kanak tidak ada upacara apa pun. Anak ini bermain dengan anak-anak lainnya dalam kampung/desa tempat ia dilahirkan. Apabila anak ini dianggap sudah mampu untuk menjaga adik-adiknya, ia akan diserahi tugas untuk menjaga adik-adiknya. Sesudah anak itu cukup besar dan mampu berkerja menurut penilaian orang tuanya, anak-anak itu dapat membantu mengerjakan pekerjaan ibu dan bapaknya. Hal ini berlangsung terus menerus sampai sianak menginjak dewasa.

  1. 3.              Masa dewasa

Orang-orang yang sudah dewasa atau remaja pada suku Dayak Ot Danom dan Dayak Ngajuk dahulu ditempatkan dimasukkan dalam suatu asrama untuk belajar membuat alat perlengkapan hidup mereka kelak. Asrama yang berfungsi sebagai tempat pendidikan ini pada suku Sayak Ot Danom dan Dayak Ngajuk disebut kuwu. Pada suku Dayak Ma’anyan dan Lawangan lembaga ini tidak dikenal.

Orang-orang tua yang masih termasuk dalam keluarga batih mengajarkan kepada para pemuda begaimana cara membuat alat pelengkapan hidup mereka pada umunya, dan pada upacara adat diajarkan pula cerita-cerita rakyat yang mengisahkan asal-usul suku Dayak Ma’anyan dan Lawangan.

  1. Perkawinan

Berakhirnya masa dewasa ditandai dengan tibanya perkawinan. Seseorang dianggap cukup matang  untuk melangsungkan perkawinannya bila ia sudah dapat membuat alat-alat pelengkapan hidup pada umumnya dan dinilai mampu membina rumah tangganya.

Proses perkawinan dilaksanakan sesuai dengan adat serta hukum adat.

  1. Masa-tua

Masa ini disampingnya mempunyai tugas-tugas sebagai kepala keluarga dalam rumah tangga ia juga bertugas untuk mengajarkan kepada para pemuda dalam lingkungan keluarga batih maupun keluarga dalam arti luas.

Selalu diajarkan pula apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan menurut adat leluhur,

  1. Kematian

Bila yang bersangkutan meninggal dunia maka dilangsanakan upacara kematian baginya. Upacara kematian pada masing-masing suku Dayak ini agak berbeda satu dengan yang lainnya. Umumnya semua suku Dayak ini selalu menyimpan tulang-tulang si mati itu di tempat tertentu yang disebut Sandong atau Tambak atau kadaton.

Dengan bertambah majunya hubungan dan masuknya kebudayaan dari luar serta sulitnya melaksanakan adat serta  upacara adat, banyak perubahan terjadi di dalam pelaksanaan sehari-hari. Misalnya mereka yang telah memeluk agama kristen, upacara pemandian anak diganti dengan baptisan. Tetapi, bekas adat leluhur masih tampak yaitu selalu sesudah diadakan baptisan di gereja diikuti dengan pesta pengucapan syukur.

  1. Pola-hidup sehari-hari

Pola hidup sehari-hari orang Dayak di Kalimanatan Tengah dimulai dengan mata pencaharian mereka. Sebagai mata pencaharian pokok suku Dayak Kalimantan Tengah adalah bertani pada ladang.

Sistem pertanian pada ladang adalah suatu cara bercocok tanam yang berpindah-pindah tempat. Sebagai usaha tambahan atau usaha sampingan mereka adalah mengusahakan hasil hutan dan berkebun karet.

Apabila diamati, pola pencaharian hidup orang Dayak umunya adalah tergantung pada alam. Sebagai contoh, apa bila musim kemarau tiba, hampir seluruh penduduk turun mencari ikan di danau-danau dan di sungai-sungai. Secara praktis pada masa ini perkebunan karet tidak digarap atau diusahakan.

Selesai musim kemarau mereka mulai menyadap karet atau mencari hasil hasil hutan yang lain lagi. Bila musim hujan tiba mereka tidak menyadap karet lagi, tetapi mengerjakan pekerjaan lain, misalnya anyam-menganyam atau membuat barang-barang kerajinan tangan. Jadi, dapatlah dikatakna bahwa mata pencaharian orang Dayak bergantung pada alam atau musim.

Suatu suku bangsa yang masih memegang teguh adat-istiadat mereka seperti orang Dayak di kalimantan Tengah, tidak mengherankan jika pola mata pencaharian mereka bergantung pada alam. Sebab bagi suku bangsa yang masih memegang adat atau dipengaruhi benar oleh adat beranggapan bahwa hidup ini tergantung pada alam.

Maka oleh karenanya keseimbangan alam (kosmos) ini harus dijaga. Apabila keseimbangan alam tersebut terganggunya kehidupan manusia. Maka perlu segera diadakan upacar untuk mengembalikan keseimbangan tersebut. Sebagai salah satu akibat terikatnya mereka  pada adat, maka pola hidup mereka sehari-hari beririentasi ke masa depan.

Hanya saja masa depan mereka adalah apabila segala adat dan upacara adat dapat dilangsungkan, itulah keputusan yang mereka tuju. Dirasakan adanya suatu keputusan dam kebahagiaan apabila orang tua mereka yang telah meninggal sudah dilaksanakan upacara kematiannya yang sering dikenal dengan tiwah, ijambe, wara dala dan sebagainya seperti diketahui upacara semacam itu memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi demi untuk rasa kepuasan dan kebahagiaan serta bakti terhadap orang tua, maka upacara ini sedapat mungkin harus diselenggarakan tanpa memperdulikan bagaimana hari esok yang lebih panjang lagi.

Pada masa sekarang perwujudan dari pengaruh pola hidup sehari-hari terlihat apabila ada peristiwa-peristiwa istimewa dalam daur hidup dalam (life-cycle) pasti dilaksanakan pesta. Apakah peristiwa itu berupa kelahiran, baptisan, perkawinan, atau kematian selalu diadakan pesta.

Akhirnya dapatlah disimpulkan bahwa pola hidup sehari-hari orang Dayak Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut:

  1. Pola hidup mereka tergantung pada alam atau musim.
  2. Pola hidup mereka berorientasi pada masa depan.
  3. Tumpuan masa depan mereka diletakkan pada anak-anak mereka untuk melanjukan adat kebiasaan mereka.
  4. Pola-hidup musiman

Dalam pola hidup sehari-hari telah dikatakan bahwa mereka sangat tergantung pada alam atau musim. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pola hidup suku Dayak sangat dimanjakan oleh alam lingkungan tempat mereka hidup. Alam telah menyediakan segala-galanya. Manusia tinggal menyesuaikan diri dengan keadaan untuk memetik hadil bagi hidup mereka.

Jadi pola hidup musiman pada orang Dayak di Kalimantan Tengah juga tergantung pada permintaan pasar dan kebutuhan. Bila harga karet sedang melonjak naik, maka seluruh penduduk menyadap karet atau mengusahakan karet. Jika harga kayu meningkat, maka seluruh penduduk mengusahakan kayu. Jikalau rotan sedang melonjak harganya maka seluruh kebon rotan diambil hasilnya.

Sebaliknya bila harga barang-barang tidak memuaskan atau dianggap tidak memenuhi kebutuhan mereka, maka pekerjaan itu ditunda dahulu. Mereka beralih ke pekerjaan lainnya yang dapat memeberi hasil yang memuaskan mereka. Akhirnya apabila harta mereka berhenti dahulu. Didalam pesta ini sering diahbiskan segala harta yang dikumpulkan bertahun-tahun itu. Memang bila dilihat dari sudut kaca mata ekonomi pada masa kini, tindakan tersebut adalah tidak ekonomis. Namun sesuatu nilai dari pandangan hidup manusia tidak dapat diteropong dari sudut ekonomi saja.

Dayak info 5

Pengalaman Hidup Bersama Masyarakat Dayak yang Mengubah Cara Pandangku tentang Mereka

<!–

–> HL | 21 februari 2013 23:19 Dibaca: 1079   Komentar: 42   4 inspiratif

 

 

 

 

1322237763253607346

Dijemput dengan Sampan Hias: Simbol Penghargaan Tertinggi bagi Tamu (Dok.Pribadi)

Kurang lebih beberapa tahun ini, saya hidup bersama dengan masyarakat Suku Dayak di wilayah perbatasan dengan Malaysia, yang terdiri dari beberapa sub suku. Setelah sekian lama menyelami kehidupan masyarakat Dayak, saya bisa mengenal lebih dekat bagaimana keseharian mereka, kekayaan budayanya, cara mereka menta hidup, dll. Banyak kekayaan batin yang telah saya peroleh ketika hidup di tengah berbagai sub suku Dayak. Tentu ada perasaan was-was ketika banyak cerita berkembang tentang masyarakat Dayak pada konflik yang terjadi beberapa tahun sebelum saya masuk dalam dinamika kehidupan mereka. Banyak pandangan negatif yang saya dengar tentang kelompok suku ini. Namun, ketika hidup di tengah-tengah mereka, bergaul bersama mereka, banyak cara pandang bias yang saya serap sebelumnya langsung dikoreksi oleh kenyataan yang saya alami.

 

 

Pertama, Orang Dayak identik dengan terbelakang dan primitif. Hal ini sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Banyak orang Dayak yang saya kenal justru maju dalam pemikirannya, menduduki posisi-posisi penting di bidang pemerintahan, banyak  kaum cendikiawan. Satu hal yang menarik, meskipun ada orang Dayak sudah berpendidikan tinggi, ketika kembali ke kampung halaman, masih tetap menghormati adat-istiadat warisan leluhur. Hukum adat masih tetap diakui dan dihargai di samping hukum positif. Di sini, para pemangku adat, mulai dari Temenggung (Kepala Suku Tertinggi) sampai dengan Kadat (kepala suku di tingkat kampung) masih mengambil peranan penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Segala persoalan terkait dengan pola relasi sosial diatur oleh para perangkat adat. Para pemangku adat masih menjadi orang-orang di garda depan untuk menegakkan aturan-aturan adat. Suara mereka masih didengarkan, meski oleh yang  terpelajar sekalipun. Prinsipnya, meski sarjana, pulang kampung harus tahu adat. Salah kata, salah bahasa dengan sesama pasti akan dijatuhi hukuman adat. Dengan demikian, jarang sekali konflik-konflik sosial di antara masyarakat adat yang diselesaikan melalui jalur hukum postif. Dari kasus sederhana, mencuri ayam sampai dengan menghilangkan nyawah orang lain, semuanya diselesaikan terlebih dahulu melalui hukum adat. Makanya, dikenal dalam hukum adat, sebuah sanki “pati nyawah” atau “mengganti nyawah” yang besarnya diatur melalui hukum adat. Dari sini, saya menemukan bahwa sesungguhnya leluhur masyarakat adat Dayak sudah mempunyai kearifan lokal dalam mengatur tatanan masyarakatnya secara cerdas. Jadi, anggapan masyarakat Dayak identik dengan primitif harus dikoreksi kembali.

Kedua, Masyarakat Dayak tertutup dengan orang luar. Anggapan ini langsung dikoreksi, karena sesungguhnya mereka begitu terbuka dan sangat menghargai pendatang. Prinsipnya: yang datang dengan niat baik, pasti akan diterima dengan hati yang putih. Dan jangan pernah sekali-kali membohongi orang Dayak, kalau masih mau dipercaya dan diterima kehadirannya. Sekali mereka merasa dibohongi dan ‘dimanfaatkan’, maka tiada maaf bagimu. Janji harus dipegang teguh. Jika berjanji untuk mengunjungi mereka apalagi dalam kerangka tugas, seharusnya ditepati. Jika ada pembatalan, karena satu dan lain hal, mohon segera diberitahukan dengan alasan yang jelas, logis, jauh-jauh hari sebelumnya. Jika tidak, maka akan dianggap melanggar hukum adat terkait pembohongan publik. Sanksi adatnya jelas.  Meskipun kecil, tetapi mampu “menanamkan rasa malu.” Karena itu, saya bisa memaklumi ketika mantan Menhut RI M.S. Kaban pernah akan dijatuhi hukuman adat ketika hampir tidak jadi mengunjungi masyarakat Iban di Sungai Utik. Siapa pun, tanpa memandang jabatannya akan dijatuhi hukuman adat jika mengingkar janji/berbohong. Karena itu, jika mau diterima sebagai bagian dari hidup mereka, seorang pendatang harus mampu memegang janji dan menghargai tatanan adat yang berlaku. Hati mereka tulus dan mau menerima siapa pun apa adanya, asalkan jangan pernah membuat mereka kecewa.

Ketiga, orang Dayak dikatakan sebagai penyebab rusaknya hutan-hutan alam di Kalimantan oleh karena sistem ladang berpindah yang diwariskan secara turun-temurun. Saya berani membantah anggapan ini. Mengapa? Sistem ladang berpindah ini menggunakan sistem siklus. Jika sebuah keluarga memiliki 5 bidang tanah, maka tanah-tanah ini akan digilir pengelolaannya secara bergantian setiap tahun. Misalkan satu kepala kelurga memiliki lahan A, B, C, D, E. Tahun ini mereka menggarap lahan A, maka 4 tahun lagi mereka akan kembali menggarap lahan A. Dengan demikian, mereka membirkan tanah mereka memulihkan dirinya sendiri terlebih dahulu dan menjadi subur kembali secara alamiah setelah ditinggalkan selama empat tahun, bahkan 5 tahun. Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada wilayah hutan alam masih perawan yang mereka garap untuk tempat berladang. Semuanya itu dikerjakan dengan tetap mengacu pada hukum adat, sehingga tidak ada yang sembarangan membabat hutan perawan, apalagi hutan adat (milik bersama) untuk tempat berladang. Penyebab utama lajunya kerusakan hutan perawan di Kalimantan, sesungguhnya bukan para petani ladang berpindah, tetapi perkebunan dan pertambangan skala besar. Jangan menjadikan orang Dayak sebagai kambing hitam, sudah jatuh ditimpuk tangga. Sudah alamnya rusak, sungainya keruh, menderita kehilangan tanah, masih dicap sebagai “biang kerok” kerusakan hutan.

Keempat, untuk memajukan orang Dayak, datangkan investor perkebunan, HPH, dan pertambangan. Saya berani katakan: itu hanya bagian dari propaganda orang-orang yang rakus akan SDA di tanah Borneo. Siapa yang diuntungkan dari adanya perkebunan skala besar, HPH, dan pertambangan? Apakah ada orang Dayak yang menjadi miliader, menyekolahkan anak-anak ke luar negeri karena hasil tambang, perkebunan, dan tebang hutan? Tidak ada! Lalu siapa yang sesungguhnya bersembunyi di balik yel-yel kemajuan yang digembar-gemborkan itu? Investor dan segelintir penguasa dari fee-fee yang mereka dapatkan. Untuk orang Dayak sendiri? Mereka tetap tidak mau mengeruk lebih dari yang diperlukan untuk hidup mereka di alam yang diwariskan para leluhurnya. Siapa yang maju? Hanya Tuhan yang tahu. Bagi mereka sungai, hutan, dan alam yang lestari masih dianggap sebagai nafas dan ibu mereka. Kalau itu dirusak “atas nama kemajuan,” mereka dan anak cucunya akan menderita.

Demikianlah beberapa catatan koreksi atas pemahaman akan orang Dayak setelah bergaul akrab bersama mereka, masuk dalam kehidupan mereka, dan menjadi bagian dari suka-duka hidup mereka selama ini. Prinsipnya: “jangan mengadili orang lain sebelum anda sungguh-sungguh mengenalnya lebih dalam.”

Dayak info 1

 Gambar

Selasa, 12 April 2013

Suku Dayak Dikalimantan

Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.
ASAL MULA
Pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.
Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.
Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).
Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)
Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.
Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)
Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

  • Upacara Tiwah

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.
Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

  • Dunia Supranatural

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.
Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.
Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.
Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.
Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.
Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.
Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

Dayak info 2

Makna dan Simbol Tato dari Suku Dayak KalTim

 Gambar
 

Seni dan Budaya:

Terinspirasi dari pertanyaan sobat blogger yang mengomentari salah satu dari postingan saya,beliau menanyakan tentang makna dari tato bagi suku dayak.Pada kesempatan ini saya akan memberikan informasi tentang makna Tato dari Suku Dayak Kalimantan yang saya kutip dari beberapa website yang mempunyai informasi.Untuk teman-teman yang ingin tau langsung saja baca di bawah ini.Terima Kasih.

Tato,ialah sebuah seni lukis yang menggunakan bagian tubuh untuk tempat mengaspirasikan sebuah lukisan atau gambar.Tapi kebanyakan masyarakat menilai bahwa orang – orang yang bertato itu dengan negative thinking.Mungkin sebagian dari warga menilai bahwa orang yang bertato mempunyai perilaku tidak baik.

Namun didalam Suku Dayak Kalimantan Timur Tato merupakan simbol yang secara langsung memperlihatkan strata sosial seseorang dalam masyarakat.Selain itu tato juga merupakan bagian dari tradisi, religi,serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu,dalam suku dayak tato tidak bisa dibuat dengan sembarangan.Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang ditato maupun penempatan tatonya. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor” dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

Semakin banyak tato,maka dalam artian suku dayak semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang.Tetapi tato tidak bisa di buat sebanyak-banyaknya secara sembarangan,karena harus mengikuti dan mematuhi aturan adat.


Berikut jenis – jenis tato dalam suku dayak :

Tatto di sekitar jari tangan:

Bagi suku Dayak yang bermukim di perbatasan Kalimantan dan Sarawak Malaysia,tato yang berada di sekitar jari tangan menunjukkan bahwa orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan.Dan apabila tato tersebut semakin banyak di tangan,maka semakin banyak pula orang yang di tolong dan semakin ahli dalam pengobatan.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.Di Kalimantan, jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer, dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan.

Di kalangan masyarakat Dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren) adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.Bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunannya ditato dengan motif “dunia atas” atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan detail dibandingkan tato untuk golongan menengah (panyen).

Bagi subsuku lainnya, pemberian tato dikaitkan dengan tradisi mengayau (KAYAU) atau memenggal kepala musuh dalam suatu peperangan. Tradisi ini sudah puluhan tahun tidak dilakukan lagi, namun dulunya semakin banyak mengayau, motif tatonya pun semakin khas dan istimewa.
KAYAU
Kata Kayau bermakna sebagai kegiatan perburuan kepala tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi musuh, dimana kepala hasil buruan tersebut akan digunakan dalam ritual Notokng ( Istilah Dayak Kendayan).Jadi pada dasarnya yang dimaksud dengan Kayau bukanlah perang antar suku seperti perang dalam kerusuhan-kerusuhan yang pernah terjadi di Kalimantan beberapa waktu silam.Kayau tidak sembarangan di lakukan, demikian juga tokoh-tokoh musuh yang di incar, semua dipertimbangkan dengan penuh seksama. Sementara itu, jumlah pasukan Kayau yang akan bertugas di medan minimal tujuh orang. Dimasa silam Kayau umumnya dilakukan terhadap tokoh-tokoh musuh yang memang kebanyakan berbeda sub etnis Dayak-nya. Peristiwa Kayau yang terekam sejarah dan cukup terkenal adalah peristiwa Kayau Kepala Raja Patih Gumantar dari kerajaan Mempawah (Kerajaan Dayak Kendayan ) Kalimantan Barat oleh pasukan Kayau Dayak Biaju / Ngaju Kalimantan tengah, meskipun cerita yang beredar di kalangan masyarakat Dayak Kendayan dimasa kini menyebutkan bahwa nama Biaju ini sering di katakan sebagai Dayak Bidayuh sungkung, dan hal ini diperparah oleh para penulis buku-buku tentang sejarah Kalimantan Barat yang menerima begitu saja cerita dalam Masyarakat tanpa ditelaah lebih lanjut dan bahkan beberapa penulis dengan gampangnya menyebutkan bahwa Dayak Biaju ini punya pulau tersendiri di luar Borneo hanya karena mendengar cerita rakyat yang mengatakan bahwa mereka datang memakai Ajong / Kapal, padahal sebenarnya satu pulau dengan Dayak Kendayan,hanya saja untuk sampai ke daerah asalnya memang melalui sungai dan laut. Hal ini terjadi ditengarai oleh awalan kata Biaju dan Bidayuh yang sama-sama diawali oleh kata “Bi” dan kedua-duanya mempunyai bunyi kata yang hampir mirip (BI-AJU dan BI-dAYUh), padahal yang namanya cerita lisan pasti cukup beresiko mengalami perubahan. Namun yang sangat pasti dan jelas kata Biaju secara tegas di sebutkan dalam cerita tersebut.

Tato untuk sang pemberani di medan perang ini, biasanya ditempatkan di pundak kanan. Namun pada subsuku lainnya, ditempatkan di lengan kiri jika keberaniannya “biasa”, dan di lengan kanan jika keberanian dan keperkasaannya di medan pertempuran sangat luar biasa.
Contoh Potret:

Pemberian tato yang dikaitkan dengan mengayau ini, dulunya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan suku kepada orang-orang yang perkasa dan banyak berjasa.

TATO atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki-laki, tato bisa dibuat di bagian mana pun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan.Jika pada laki-laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius. “Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh-roh jahat dan selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa.

Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya di sandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii pada seluruh paha.

Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat di sebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun keluarganya.

Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Adapun yang melintang di belakang buku jari disebut ikor. Tato di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau.

Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tato di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis.

Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.

Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.

“Karena itu, tato yang dibuat warna-warni, ada hijau, kuning dan merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filososfis yang tinggi,” ucap Yacobus Bayau Lung.

Dan tato yang ada di zaman modern ini hanyalah sebuah lukisan yang tidak ada artinya dan tidak bermakna.Tato zaman modern di buat hanya untuk style atau gaya bagi para anak muda sekarang.
Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat buat teman – teman semua.Terima Kasih.

(sumber :errujulan.wordpress.com dan http://www.ceritadayak.com)

Sumber : http://www.sejarahpaser.com/2012/04/makna-dan-simbol-tato-dari-suku-dayak.html#ixzz2LOvAuJiK

Look This!!!

Makna Tato Bagi Suku Dayak Kalimantan

Bookmark and Share
Tato memang sudah menjadi trend di dunia luar sana, jadi simbol kebebasan memodif diri dan tubuh, tapi di negara kita Indonesia tato sudah ada sejak dahulu.

Jangan terkejut jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato bagi masyarakat Dayak bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam.

[imagetag]
Sebab tato bagi masyarakat Dayak tidak boleh dibuat sesuka hati sebab ia adalah sebahagian dari tradisi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang.

Oleh karena itu, ada peraturan tertentu dalam pembuatan tato baik pilihan gambarnya, struktur sosial seseorang yang memakai tato maupun penempatan tatonya.

Meskipun demikian, secara realitasnya tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor” dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

[imagetag]
Bagi suku Dayak yang tinggal di sekitar Kalimantan dan Sarawak Malaysia, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tatoo di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin arif dalam ilmu pengobatan.

Bagi masyarakat Dayak Kenya dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah kuat mengembara. Setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

[imagetag] http://www.photojournale.com/data/media/175/tatto_hand_1.jpg
Berbeda pula dengan golongan bangsawan yang mamakai tato, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.

Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tatoo di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bahagian bawah betis.

Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai simbol tato berbentuk muka harimau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

[imagetag] http://s4.hubimg.com/u/1944739_f520.jpg

Tatoo sangat jarang ditemui di bagian lutut. Meskipun demikian, ada juga tatoo di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.

sumber : http://www.klikunic.com/2011/05/makna-tato-bagi-suku-dayak-kalimantan.html#ixzz20fVXZk2h

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.